Linden in London
Pemandangan
di luar jendela kamar tidak terlalu menyejukkan mata, karena minggu pertama
dibulan Juli bertepatan dengan pertengahan musim kemarau di Bandung. Kendati
kemarau tengah berlangsung, hujan pun tidak akan pernah hilang seutuhnya,
alih-alih hujan yang diidam-idamkan hanya sebatas menipu, hanya membersihkan
debu-debu yang menempel di dedaunan, hanya membasahi permukaan tanah yang
menimbulkan petrikor, warisan aroma generasi itu tak berlanjut, Linden
berpenyakit hidung.
Linden
menenggak sedikit teh yorkshire, mengamati seorang pelayan laki-laki di luar
jendela tengah merabuki lantana. Lantana-lantana itu gembira, tak sampai
semenit kemudian, pelayan itu berbicara kepada Linden meski ada sekat
transparan.
“Aku
tak pernah tahu, mengapa setiap hari kau berbicara dengan beberapa tanaman,
agaknya lantana-lantana ini senang jika kau bernyanyi, aku melihatnya
bergoyang-goyang meski tak ada angin menerpanya, bukan begitu?”
“Aku
pikir aku terlahir di tanah ini untuk hal demikian,” jawab Linden.
Seketika
itu juga, Restina berjalan menghampiri Linden dengan lagak penuh angkuh, dari
detail-detail yang ada, bahwa ia bukanlah seorang wanita yang anggun, parasnya
yang cantik haus akan sanjungan kaum-kaum hedonis.
“Hujan
di tengah senja, ditemani dengan teh konyol yang membuat khayalanmu semakin
kurang sehat, terus terang kau bisa gila jika di dalam otakmu berisi hal-hal
konyol.”
“Hanya
dengan cara seperti ini supaya aku selalu ingat bahwa di dalam diriku mengalir
separuh darah ras kaukasoid nordik, jiwanya senantiasa tergores di dalam
diriku,” bantah Linden.
“Begitukah?”
Gumam Restina. “Aku harus bersimpati pada hati yang berduka cita atas
kecelakaan beruntun di Belgrave Middleway di Birmingham 15 tahun yang lalu, aku
yakin bahwa waktu itu kau masih sebesar kencur dan tidak ingat apa-apa. Atas
kejadian itu keluarga Murphy dikuburkan di Highgate. Oh aku tak bermaksud
berkata demikian.” Restina menghela nafas dengan jeda beberapa detik. “Maksudku
bahwa kau sudah tak punya kerabat satu pun di London,” lanjutnya.
“Begitu
lancang kau menceritakan hal itu dengan mulut kotormu, bahkan kau tidak punya
hak untuk mengetahuinya, kau hanya makhluk licik yang berperangai mirip seorang
assassin yang mampu merebut hakku
dari ayah, enyahlah!” pekik Linden berapi-api. “Kalau begitu aku yang akan
pergi dari sini, aku akan pindah ke London secepatnya untuk bertemu tulang
belulang ibuku, bukankah kau senang jika tanah ini menjadi milikmu seutuhnya?”
“Kau
sangat mengenalku ya? Tetapi mungkinkah itu? Harga tiketnya lebih mahal
daripada bilik kamarmu yang bobrok ini.” Restina melongos pergi. “Oh, Lindenku
tersayang! Aku semakin mencintaimu,” kata Restina sesudahnya.
Linden
berteriak “Kau harus camkan ini! Hanya dua hal yang aku senangi di tanah ini,
meski aku dibesarkan oleh seorang musuh. Pertama, aku sangat mencintai Mario
meski ia terlahir dari perutmu, setidaknya ia satu benih denganku. Kedua, aku
mencintai tanaman dari suku Verbenaceae yang lebih aku cintai daripada ayahku.”
Restina
tak menghiraukannya, Linden mendengus kesal hingga menghabiskan waktu berjam-jam
hanya duduk seperti itu, dalam hatinya menjerit, hatinya seolah tersayat pisau
berkarat seakan-akan mengeluarkan nanah yang busuk, pertanda hatinya tengah
terluka. Linden tidak menjerit meskipun benaknya masih bergejolak, ia tidak
bisa mengalihkan pikirannya.
Matahari
telah tenggelam, senja yang mengharu biru hatinya itu pun berlalu. Bau tanah di
taman itu telah menghilang, Linden tidak sabar untuk segera pergi kesana, ia
mengambil lampu damar sebab dengan cahaya lampu itu lantana di tamannya akan
tersenyum. Tak seorang pun kecuali Linden sendiri berada di taman itu, meski ia
menatap lantana-lantana itu sejenak, sesekali tanaman itu bergoyang. Setelah
Linden puas berkeliling mengitari setiap sekat-sekat taman, ia mendengar suara
bel di atas atap.
“Astaga,
apa itu?” Seru Linden. “Sangat berkilauan!” Dengan serius ia menatap cahaya
biru yang mengelilingi dandelion yang tumbuh di atas atap.
“Aneh
sekali, aku rasa atap itu terlalu panas untuk ditumbuhi tanaman,” gumamnya
dalam hati.
Linden
hampir takut untuk sesaat ketika cahaya itu terbang cepat ke arah dirinya dan
mengitari lampu damar berulang kali. Dilihatnya seekor makhluk kecil bertopi
mawar merah dengan jubah daun yang hijau mengkilap, hingga ia melihat
kristal-kristal biru itu menyelimuti sayap makhluk itu. Semakin lama makhluk
itu semakin membesar, Linden sedikit menjerit, hanya saja jeritannya
terpenggal, sebab ketampanan makhluk dihadapannya semakin jelas terlihat dan
telinga lancipnya bergerak-gerak.
“Ya
ampun, aku rasa kau adalah seorang peri shefro atau peri asrais?”
Awalnya
peri tampan itu tidak menjawab, bahkan tak ada anggukan singkat. Hanya saja
Peri itu menjulurkan tangan dinginnya untuk menggengam tangan Linden, lalu
mengepakan sayapnya yang lebih lebar dari tubuhnya seperti laron. Maka, bersama
lampu damar itu Linden dibawa terbang seperti kunang-kunang raksasa.
Peri
itu berkata dengan malas, “Aku akan membawamu terbang ke arah barat laut sejauh
7.383 mil selama enam jam sehingga ketika kita akan mendarat dengan waktu yang
sama dari posisi awal.”
“Maaf
aku tidak mengerti pernyataan yang baru saja kau sampaikan, kau akan membawaku
kemana hanya dengan berbekal sebuah lampu damar?” Linden bertanya dengan
ekspresi bingung.
“London,”
jawab peri itu dingin.
Linden
kaget dan berteriak, ia tak mempercayainya, permohonannya benar-benar terkabul,
ia kembali melontarkan pertanyaan, “Apakah kita akan pergi ke Highgate?”
“Mengapa
kau terus membujukku untuk selalu berbicara?”
Namun
sikap peri itu yang dingin membuat Linden merasa canggung. Ada begitu banyak
hal yang Linden ingin tanyakan, hanya saja kecepatan peri itu melebihi
kecepatan alap-alap kawah sehingga hanya suara angin yang terdengar, ia tidak
pernah merasakan hal yang luar biasa di dalam hidupnya.
Dengan
perasaan yang dongkol sekaligus senang, akhirnya enam jam pun telah berlalu,
sehingga mereka sampai di sebuah gerbang rumah, papan kayu bergantung di
atasnya bertuliskan Linden Murphy’s House.
Linden membuka gerbang itu, daun-daun hijau berbentuk hati tiba-tiba berguguran
tertiup angin ke arahnya. Linden tahu benar bahwa daun-daun itu berasal dari
beberapa pohon saru di depannya, di Britania Raya pohon itu dikenal dengan nama
lime atau linden. Linden merasa heran, sebab musim gugur akan tiba di eropa
setidaknya tiga bulan mendatang.
Linden
mengetuk pintu itu dan berteriak “Permisi, apakah ada orang di dalam?”
Seseorang
membuka pintu itu dari dalam, seketika peri tampan itu langsung menguap ke
udara bebas meninggalkan beberapa berlian, kini seseorang berambut pirang
berada dihadapan Linden, seseorang yang wajahnya sama persis dengan foto di
dalam buku hariannya, hanya saja ia terlihat lebih tua dan duduk di atas kursi
roda, sebab kedua kaki wanita itu terputus.
Reza Fauzi Dwisandi

Comments
Post a Comment